Sabtu, 10 September 2011

Usut Tuntas Kasus Pemukulan Khatib Jumat

Oleh: NH & Radzie - 10/09/2011 - 01:17 WIB
BANDA ACEH | ACEHKITA.COM — Sekretaris Jendral Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) Teungku Faisal Ali meminta polisi mengusut tuntas kasus pemukulan khatib salat Jumat di Masjid Raya Keumala Pidie, Jumat (9/9).
“Polisi harus bekerja maksimal, biar kasus serupa tidak terulang lagi,” kata Teungku Faisal Ali kepada acehkita.com, Jumat petang.
Menurut Teungku Faisal, kejadian itu sama sekali tidak bisa diterima akal sehat. “Belanda saja yang orang kafir tidak melakukan hal begitu. Mereka menunggu sampai orang selesai salat, baru ditangkap,” ujar Teungku yang akrab disapa Lem Faisal ini.
Lem Faisal menambahkan, kasus pemukulan khatib Jumat merupakan tindakan yang di luar perikemanusian dan sangat memalukan.
“Tapi ini terjadi sekarang. Di mana marwah kita di mata masyarakat daerah lain,” tambahnya.
Lem Faisal sangat menyayangkan hal itu tejadi di Aceh yang tengah memberlakukan syariat Islam.
Untuk itu, ia mendesak polisi mengusut tuntas kasus pemukulan khatib tersebut karena telah “mencoreng syariat Islam yang rahmatal lil ‘alamin.”
Lem Faisal juga mendesak agar para pelaku dihukum berat agar kasus serupa tak terulang lagi di masa mendatang. “Jangan sampai ada upaya damai,” katanya.
Seorang warga Keumala yang tidak mau disebutkan namanya juga meminta polisi segera menuntaskan kasus ini. “Kasus ini jangan dipetieskan,” kata dia.
Sementara itu, Kepolisian Resort Pidie bertindak cepat menangani kasus langka ini. Hingga kini, polisi telah memeriksa dua saksi, selain saksi korban.
“Para saksi mengenal pelaku. Salah seorang di antaranya disebutkan pelakunya anggota dewan,” kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Pidie AKP Jatmiko pada acehkita.com, Jumat malam. []

Slashdot! Netscape! Blinklist! Ma.gnolia! Squidoo! SphereIt! SpURL

Ada 6 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar

  1. Ichsan Ujong Rimba - September 10th, 2011 - 01:59 Yang mukul dan yang dipukul, keduanya salah. Ngapain khatib ceramah politik di khutbah Jum’at, ‘kan ada bahasa yang lebih halus yang bisa dipakai. Yang mukulpun kenapa gak sabar dikit, usai Jum’atan baru diselesaikan secara jantan atau betina. Emang Aceh ini udah gila ‘kali ya..? Mulai dari soal politik, sosial dan agama udah bertingkah gak wajar lagi
  2. Jony - September 10th, 2011 - 11:12 Nyan keuh lageenyan ¤tgk khateb ¤ geujak meukat ubat ateuh mimbar… Tgk hana siap dngn materi khutbah.. Yo rugoe… Mkajih tim nyan geupike hana kesempatan laen tuk kompanye..kalaupun hrus berbicaraa politek tp pahami apa itu siyasah.. Bek yo baca bku ¤ siyasah syar iayah ¤ karangan ibnu taymiyah…
    Hana sabe salah masyrakat.. Seharus jih tgk yang khatib di bekali dilee… Kira bek mnyinggong aib gob. Peu lom karap pilkada..
    Pkon meunan tgk2?

  3. Jony - September 10th, 2011 - 11:14 Untuk yang maen hakim sendri ..hana hak droeneuh inan jak dhalimi gob… Maunya bs disampaikan teguran .. Agar khtib memutar haluan..tidak mest dengon kekrasan… Malee teuh.
  4. Bernard - September 10th, 2011 - 11:36 KALAU TIDAK BERADA DITEMPAT TERSEBUT, TIDAK USAH KOMENTAR …..!!!!!!! TIDAK TAU ISINYA KHUTBAH, GAK USAH KOMENTAR……!!!!!! YG JELAS KHOTIB ITU BENAR…….. DIA HARUS MELURUSKAN YG BENGKOK, DENGAN TANGANNYA, KALO GAK MAMPU DENGAN LISANNYA, KL GAK MAMPU DENGAN DOA SAJA……. MEMANG SUDAH BANYAK PENYIMPANGAN DI BUMI YANG ‘KATANYA’ BERSYARIT ISLAM, YANG ‘KATANYA’ SERAMBI MEKAH INI……. MUDAH2AN ALLAH SWT SEGERA MENURUNKAN AZAB-NYA……
  5. Bernard - September 10th, 2011 - 11:42 “Bila kamu melihat kemungkaran, ubahlah dengan tanganmu. Bila tak mampu ubahlah dengan lisanmu. bila tak sanggup, ubahlah dengan hatimu, dan itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)
  6. Jony - September 10th, 2011 - 14:31 Karna hana geu tuoh cara ubah..makajih di nagroe tanyoe cho ujong…
    ¤ khatibunnas bi qadri uqulihim ¤

Orang Pinggiran


Aku hanya orang pinggiran yang selalu terpinggirkan, tapi tak apalah, yang penting tekadku bukan tekad orang pinggiran. Hanya waktu dan nasib saja yang belum membawaku  ke pertengahan dan biyarlah saat ini aku masih tetap jadi orang pinggiran. Selama sifat dan sikap orang-orang pertengahan masih tetap seperti sekarang, aku bangga jadi orang pinggiran, asal moralku tak ikut terpinggirkan. Betapa bodohnya orang pertengahan yang tak tahu arti kehidupan, hanya tahu apa arti penggemukan badan dan sungguh riang orang pinggiran yang mampu jadikan hal bodoh jadi mainan yang menawan. Oh... orang pinggiran, jadikan dunia ini seindah pemikiran kecilmu yang tak hanya mampu mengangkat bayang reot dipojok ruangan dan jangan tiru orang pertengahan yang berkhayal mampu mengangkat bumi menggantikan atlas....  :D :D :D